30.000 Pengunjung Taman Satwa Terjebak Kerusakan Jalan

0
30 views

“Jalan Rusak Sehingga Malu Jika Karcis Masuk Dinaikan Harganya”

Garut News ( Sabtu, 09/06 – 2018 ).

Foto berita www.garutnews.com pada akhir pekan ini, Sabtu (09/06 – 2018). Kembali memotret kondisi kerusakan lintasan jalan wisata menuju Taman Satwa Cikembulan Kadungora Garut, Jawa Barat, yang juga selama ini dimanfaatkan banyak mobilitas penduduk sekitarnya.

Sehingga sedikitnya 30.000 pengunjung Taman Satwa Cikembulan, pada musim liburan panjang Lebaran Idul Fitri 1439 H/2018 ini dipastikan bakal “kecewa berat” lantaran bisa “terjebak” kerusakan ruas badan jalan tersebut.

Memalukan Kondisi Jalan Wisata Potensial Taman Satwa Cikembulan.
Sebab mereka terkendala kondisi jalan sempit, dan rusak yang selama ini pula kerap mewarnai kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara pada lembaga konservasi itu.

Sarat Kubangan Bahayakan Pengguna Jasa Jalan.
“Sebenarnya tak ada target jumlah luapan pengunjung pada liburan panjang Lebaran Idul Fitri tahun ini, sebab jika menyikapi kondisi lintasan jalan kabupatennya kok tak ada perubahan. Padahal jumlah pengunjung terus meningkat setiap tahunnya” ungkap Manager Taman Satwa itu Rudy Arifin, SE.

Sembilan Pelanduk atau kancil, ada di Taman Satwa Cikembulan, satwa menyusui (mamalia) berkuku genap tergolong ke dalam marga Tragulus. Pelanduk anggota keluarga Tragulidae, berkerabat dekat dengan kijang dan rusa.
Nama ilmiah marga ini, Tragulus, berasal dari gabungan dua kata. Yakni tragos, dari bahasa Yunani berarti ‘kambing’, dan akhiran –ulus dari bahasa Latin berarti ‘kecil’. Sesuai keadaan tubuhnya kecil, pada usia dewasa ukurannya kurang lebih sama dengan kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia, termasuk salah satu ungulata terkecil di dunia. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai mouse-deer atau chevrotain.
Meski Meski demikian, selaku pengelola taman satwa tetap konsisten dengan komitmen senantiasa berupaya meningkatkan kualitas jasa layanan termasuk kenyamanan bagi para wisatawan, demi nama baik Kabupaten Garut, imbuhnya kepada Garut News, Sabtu (09/06 – 2018).

“Bahkan harga karcis pun tak mengalami kenaikan, karena jika dinaikan bakal malu dengan pengunjung, menyusul kondisi jalannya pun masih banyak kerusakan,” ungkap Rudy Arifin.

Karena itu, agar para pengunjung bisa semakin bertambah nyaman. Maka diupayakan maksimal ajang wisata bernuansakan pendidikan ini memiliki tampilan baru, termasuk dimilikinya wahana bermain anak-anak.

Rumah Kepala Stasiun KA Leles di Kadungora yang Kini Diterlantarkan.
Selain itu pun kondisi setiap seluruh koleksi satwanya juga kian sejahtera, di antaranya kini gencar menyiapkan kandang tiga anak macan bakal menempati kandang masing-masing jika mulai beranjak remaja.

Kemudian kelengkapan alat kesehatan satwa, agar Klinik Satwa yang kini dibangun memiliki kelengkapan peralatan laboratorium antara lain mikroskop dan lainnya, disiapkan pula pembangunan kandang maupun sarana orangutan.

Sebelumnya Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman yang kini masih menjalani cuti kampanye Pilkada serentak 2018 kepada Garut News, katakan jalan wisata melintasi Taman Satwa Cikembulan dipastikan bakal mendapatkan perbaikan dan peningkatan kualitasnya.

Aset Negara yang Dibiarkan Menjadi Sarang Hantu di Pinggiran Lintasan Rel KA Kadungora Garut, Jawa Barat.
Sehingga bakal segera diinventarisir, apakah juga diprogramkan pelaksanaannya pada 2019 mendatang, ungkapnya antara lain.

Kurang malahan tak adanya perhatian Pemkab Garut terhadap kondisi jalan acap menjadi jalur alternatif dari padat – merayapnya kendaraan keluar masuk Garut setiap musim liburan panjang, menjadikan upaya peningkatan jumlah pengunjung tak bisa optimal dibandingkan potensi tersedia.

Padahal kondisi jalan rusak parah tersebut, tak hanya menjadi keluhan pengelola Taman Satwa Cikembulan, dan pengunjung. Melainkan warga maupun pengguna jalan lainnya yang melintas banyak yang mengeluh berat.

Karena selain berakibat tak nyaman, juga rawan terjadi kecelakaan. Terlebih pada musim hujan. Sehingga jangan heran di banyak titik lokasi, badan jalan seakan berubah menjadi kubangan kerbau. Jika kondisinya kering, batu-batuan besar, dan tajam pun tampak menonjol siap mengancam pengendara.

Akses menuju Taman Satwa Cikembulan selain sering menjadi jalur alternatif pada musim liburan panjang dari arah Bandung menuju Garut maupun sebaliknya, juga merupakan jalur lintasan menuju obyek wisata Candi Cangkuang Leles.

Sehingga kendaraan yang melintasi jalur jalan itu acap terjebak kemacetan. Juga diperparah, terdapat lintasan kereta api tak berpalang pintu antara Cikembulan dengan Leles sering membuat arus lalu lintas kendaraan terhambat.

Selama rentang Januari hingga akhir Desember 2017, jumlah pengunjung Taman Satwa Cikembulan Garut mencapai 140.000 wisatawan. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 5-10 persen dari tahun sebelumnya.

Rudy Arifin, SE pun keheranan atas sikap Pemkab Garut terkesan tidak ada perhatian atas kondisi akses jalan menuju Taman Satwa Cikembulan ini.

Padahal keberadaan lembaga konservasi tersebut diakui atau tidak, menjadi ikon edu-wanawisata primadona di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Garut. Tak sekadar tempat berekreasi keluarga melainkan lembaga yang bisa mengedukasi anak seputar konservasi satwa. Mengenalkan anak akan beragam jenis satwa dilindungi, dan terancam punah.

Pengunjung pun bukan hanya wisatawan lokal Garut melainkan dari berbagai daerah dan pulau di Indonesia, bahkan mancanegara.

Keberadaan Taman Satwa Cikembulan juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi warga sekitar dengan pelbagai jenis usahanya. Baik terlibat langsung dalam pengelolaan taman satwa maupun aspek pendukung bagi pemenuhan beragam kebutuhan, dan kenyamanan para pengunjung.

Namun demikian, kata Rudy, pihaknya terus melakukan penataan, perbaikan, dan penyempurnaan pelbagai sarana prasarana di lingkungan Taman Satwa Cikembulan.

Bukan hanya bagi kenyamanan dan keamanan pengunjung, serta pengelola, melainkan juga kenyamanan kelangsungan hidup satwa-satwa yang ada di sana. Seperti gazebo, tempat penginapan, mushola, wahana permainan anak, tempat rehat lain bagi keluarga, perpustakaan, dan tempat parkir.

Di sana juga disediakan fasilitas penunjang klinik satwa, serta diupayakan pada setiap musim liburan panjang terdapat posko kesehatan bagi para pengunjung dengan dikoordinasikan Puskesmas setempat.

Kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) para pengelola pun terus ditingkatkan antara lain melalui program “in house training” dengan menghadirkan pakar satwa terkemuka, dan pelatihan Karang Taruna berkaitan kepariwisataan dipandu langsung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.