Penduduk Tolak Kapal Keruk Penyedot Pasir Bagendit

0
95 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 24/04 – 2016 ).

Kapal Keruk.
Kapal Keruk.

Penduduk seputar kawasan Situ Bagendit di Desa Sukaratu dan Cipicung Kecamatan Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, menolak kegiatan pengoperasian kapal penyedot pasir di kawasan situ tersebut.

Lantaran mereka merasa belum pernah diajak bicara pada kegiatan dilakukan PT Banyuresmi Artha itu. Terutama mengenai perizinan lingkungan. Sehingga terdapatnya kapal itu pun malahan hanya menjadi tontonan warga maupun pengunjung situ.

Demikian pula pipa-pipa berukuran besar guna menyalurkan material pasir, dan lumpur juga tak bisa dipasang.

Salah seorang warga Desa Sukaratu, Maman (45) katakan, kegiatan dilakukan perusahaan ini dinilai masih simpang siur. Apakah situ bakal dinormalisasi atawa hanya pengerukan pasir dan material lumpur.

“Menurut orang tua dulu, kedalaman Situ Bagendit tersebut berkisar tiga hingga empat meter normalnya. Namun kini katanya, mau dikeruk lagi hingga berkedalaman delapan meter, bahkan ada yang bilang 15 meter. Artinya kan bukan lagi normalisasi,” ungkap Maman, Minggu (24/04-2016).

Berkondisi Siap Dioperasionalkan.
Berkondisi Siap Dioperasionalkan.

Maka dia menduga kegiatan itu tak sekadar normalisasi situ, melainkan akan mengambil material di dasar situ dinilai lebih menguntungkan. Apalagi beredar isu, pasir di sana mengandung kandungan emas dan titanium.

Penduduk Desa Cipicung, Amon (50) mengaku khawatir tindakan normalisasi ini bisa mengancam mata pencaharian nelayan mencari ikan Situ Bagendit. Sebab, alat tangkap ikan disebut sirib tak mungkin mencapai dasar situ, melainkan hanya mengambang di permukaan air.

Batang bambu yang dipakai mendorong rakit maupun untuk sirib alat tangkap ikan pun paling panjang hanya sekitar empat meter.

“Padahal warga kesehariannya menjadi nelayan di Situ Bagendit mencapai sekitar 500 berasal dari lima desa. Kalaupun dialihkan ke budidaya ikan jaring apung, tak mungkin hanya nelayan di satu desa, sebab semua punya hak sama. Belum lagi bantuan modalnya dari mana,” keluh Amon.

Sebelumnya, Bupati Rudy Gunawan menyebutkan keberadaan PT Banyuresmi Artha di Situ Bagendit hanya untuk keperluan eksplorasi guna meneliti kemungkinan ada material bernilai ekonomi dapat dimanfaatkan.

Dijelaskan, normalisasi dan pengerukan situ baru dapat dilaksanakan setelah dipastikan pemenangnya melalui lelang saat ini masih dalam proses.

Rudy katakan, pihaknya sejak awal menginginkan ada rekonstruksi Situ Bagendit, dan Situ Cangkuang pada awal 2014. Setelah hal itu diajukan, dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat kemudian turun anggaran Rp15 miliar.

“Karena menjadi milik kami (Pemkab Garut). Kami ingin itu dilakukan dengan alat sangat canggih. Karena kalau tak dikeruk, tak akan berfungsi baik,” katanya.

********

( nz, jdh ).

SHARE
Previous articleMaaf
Next articleBau Tak Sedap Seputar Nurhadi