270 Hektare Areal Tanaman Pangan Terpaksa Diterlantarkan

0
28 views

“Masyarakat Petani Sangat harapkan Bendung Copong Segera Bisa Beroperasi”

Garut News ( Rabu, 26/08 – 2015 ).

Syaiful Falah.
Syaiful Falah.

Sekitar 270 hektare areal tanaman pangan selama ini mendapatkan pasokan pengairan dari Daerah Irigasi Cipacing di wilayah Kecamatan Cibatu, Garut, Jawa Barat, terpaksa sekarang dibiarkan terlantar, lantaran dilanda kemarau panjang.

Padahal sebelumnya bisa terairi dari lintasan aliran air berdebit 400 liter per detik, namun kini debitnya berkondisi nol liter per detik, sebagaimana diakui Kepala Bidang Bina Teknik Irigasi pada Dinas “Sumber Daya Air dan Pertambangan” (SDAP) kabupaten setempat, Syaiful Falah.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Rabu (26/08-2015), dia katakan meski kemarau panjang sebabkan daerah Irigasi Cipacing kekeringan sebab “kekurangan air”, namun jajarannya senantiasa berupaya membenahi jaringan irigasi teknis tersebut.

Di antaranya menyelenggarakan kegiatan pembersihan saluran, memerbaiki bagian yang bocor, serta melaksanakan survey atawa terjun langsung ke lapangan.

Pengeboran Sedalam 90 Meter Tak membuahkan Hasil.
Pengeboran Sedalam 90 Meter Tak membuahkan Hasil.

Sedangkan solusi setiap menghadapi kemarau panjang, selain bisa dibangun “embung” atawa kolam penampungan air, juga diharapkan mendapat pasokan air jika pembangunan jaringan irigasi teknis Bendung Copong, atawa Leuwigoong sepenuhnya tuntas dikerjakan sekitar akhir 2017 mendatang, katanya.

Dikemukakan pula, dari sekitar 270 hektare areal tanaman pangan itu, pada musim tanam pertama pada Oktober hingga April lalu maupun musim tanam sebelumnya, masing – masing ditanami padi seluas 80 hektare, dan palawija seluas 50 hektare.

Bongkahan Tanah Diranggas Kekeringan, Semak Belukar pun Tak Bisa Tumbuh. .
Bongkahan Tanah Diranggas Kekeringan, Semak Belukar pun Tak Bisa Tumbuh.
.

Kemudian 130 hektare tak ditanami apapun sebab mulai dilanda kekeringan.

Dalam pada itu pemilik 270 hektare areal pertanian dengan sekitar 810 kepala keluarga (KK) yang menghidupi sekitar 4.050 anggota keluarga, belum termasuk buruh taninya. Kini banyak beralih profesi.

Banyak pula di antaranya mereka terpaksa merantau ke luar kabupaten bekerja serabutan demi menyambung hidup, khususnya selama kemarau panjang.

*******

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here