27 Titik Jaringan Irigasi Tersiair Terpotong Megaproyek Copong

0
92 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Kamis, 08/10 – 2015 ).

aa21Puluhan lintasan jaringan irigasi tersier pada 27 titik tersebar sedikitnya di 14 desa Kecamatan Banyuresmi, Wanaraja, Pangatikan, dan Kecamatan Sukawening, serta bahkan beberapa sarana infrastruktur jalan desa terpotong proyek jaringan irigasi sekundair megaproyek Irigasi Leuwigoong atawa dikenal dengan sebutan Bendung Copong.

Saluran irigasi tersier terpotong tersebut, di antaranya Irigasi Ciojar meliputi empat desa, dan Irigasi Parigi meliputi tujuh desa. Sehingga menyebabkan terganggunya penyaluran air pada 1.700 hektare sawah di empat kecamatan itu.

Maka produktivitas padi pun mengalami penurunan signifikan. Apalagi kini masih diranggas kemarau panjang.

Sekjen Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (BP3A) Banyu-Wapas Solihin Absor katakan,  sejak berlangsung pembangunan saluran sekundair megaproyek Bendung Copong sekitar 2013, produktivitas hasil pertanian mengalami penurunan.

Area Bendung Copong.
Area Bendung Copong.

“Biasanya, para petani bisa memanen padi tiga kali dalam setahun. Namun sejak saluran tersiernya banyak terpotong, mereka hanya panen dua kali setahun karena pasokan air berkurang, malahan tersumbat. Jelas, petani banyak merugi,” ungkapnya, Selasa (06/10-2015).

Kondisi ini kian diperparah, dari puluhan saluran tersier terpotong megaproyek Bendung Copong tersebut, hanya beberapa titik saluran tersier diperbaiki. Sedangkan kebanyakan belum ada perbaikan sama sekali.

“Jika tak segera ada perbaikan, petani jelas mengalami kerugian besar. Dan tentu saja, ini berlawanan dengan tujuan dibangunnya megaproyek Bendung Copong itu, katanya untuk mengairi areal pertanian selama ini kekurangan air,” ujarnya.

Selain saluran irigasi tersier, sejumlah infrastruktur juga terpotong proyek saluran irigasi sekundairr dengan lebar sekitar 12 meter berkedalaman sekitar tiga meter dari megaproyek Bendung Copong. Semisal jalan desa, bahkan jalan alternatif provinsi menghubungkan kota Garut dengan Balubur Limbangan.

Dia mengingatkan Pemkab Garut turun tangan menyikapi persoalan dihadapi para petani, meski Bendung Copong merupakan proyek pemerintah pusat. Tidak semestinya Pemkab Garut berpangku tangan atas dampak negatif dirasakan para petani selama berlangsung pembangunan megaproyek itu.

“Perusahaan pelaksana proyek semestinya terbuka, selalu berkomunikasi serta berkoordinasi dengan masyarakat petani yang dampak proyek. Termasuk pelbagai dampak buruk dirasakan masyarakat terkait gonta-gantinya sub perusahaan pelaksana proyek. Yang tahu persis apa yang dibutuhkan, dan apa dampak dirasakan di lapangan itu kan petani. Bukan pihak lain,” tandasnya.

*******

Noel, Jdh.