HIV/AIDS Tewaskan 181 Warga Garut

0
33 views
Ir Denden Supresiana.
Ilustrasi. Membangun Kehidupan Keluarga yang Harmonis.

“Faktor Resikonya Didominasi Pasangan Resti”

Garut News ( Selasa, 05/11 – 2019 ).

Dari 695 penduduk Kabupaten Garut yang terinsfeksi HIV/AIDS hingga akhir Oktober 2019, menewaskan 181 warga kabupaten setempat.

“Sedangkan 695 yang terinsfeksi jenis penyakit tersebut, terdiri  285 HIV dan 410 AIDS, sudah terafi ARV 427 dengan estimasi ODHA Kemenkes 2015 mencapai 978 kasus,” ungkap Direktur Eksekutif “Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia” (PKBI) Kabupaten Garut, Ir Denden Supresiana.

Kepada Garut News, Selasa (05/11–2020), dia katakan yang terinsfeksi masing-masing 462 laki-laki dengan 266 AIDS serta 196 HIV, dan 233 perempuan dengan 144 AIDS serta 89 HIV.

Kelompok umur yang terinsfeksi mulai berusia kurang dari satu tahun hingga berusia diatas 60 tahun, namun didominasi umur berkisar 25 hingga 39 tahun mencapai 529 kasus meliputi 308 AIDS, serta 221 HIV.

Faktor resikonya didominasi pasangan Resti masing-masing perempuan 154 kasus (95 AIDS, 59 HIV), dan laki-laki 34 kasus (18 AIDS, 16 HIV).

Kemudian IDU’s (Penasun) mencapai 188 kasus terdiri 135 AIDS, dan 53 HIV disusul LSL (Laki Seks Laki) ada 171 kasus, waria 23 kasus, WPS (Wanita Pekerja Seks) dua kasus, HRM (Pria Resti) 102 kasus, Perinatal/Anak 16 kasus, serta yang tak teridentifikasi ada lima kasus.

Mereka tersebar pada 38 wilayah kecamatan dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut, terbanyak pada tiga kecamatan masing-mssing Kecamatan Garut Kota terdapat 218 kasus meliputi 144 AIDS, serta 74 HIV, Tarogong Kidul 101 kasus, dan Tarogong Kaler 44 kasus.

“Perkembangan Tahun Lalu”

Dari 645 penduduk terinsfeksi HIV/AIDS hingga akhir Desember 2018, menelan kerugian ekonomi negara bersumber APBN sedikitnya mencapai Rp1,152 miliar.

Kerugian ekonomi Rp1,152 miliar tersebut, hanya memenuhi kebutuhan menjalani terapi obat ‘Antiretroviral” (ARV) terinfeksi HIV agar virus dibuat ngumpet atau tidur, yang setiap klien sistem pemberian perawatan menyerap biaya sekitar Rp1,5 juta/bulan.

“Atau tak termasuk pemenuhan penanganan terinsfeksi HIV TB Paru, hepatitis C, dan AIDS kebutuhan biayanya lebih besar lagi,” beber Denden Supresiana.

*********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here