116 Penduduk Garut Sangat Mendesak Segera Direlokasi

0
322 views

Garut News ( Rabu, 17/12 – 2014 ).

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan agar sekitar 116 penduduk selama ini mendiami  sedikitnya 29 rumah korban bencana longsor segera direlokasi.

Mereka tersebar pada empat dari tujuh kecamatan dilandan longsor 29 November 2014 lalu tersebut kudu direlokasi. Lantaran selain lokasinya tak laik dijadikan tempat tinggal, juga sangat berpotensi terancam bencana longsor susulan.

Warga mendesak direlokasi itu, terdiri penghuni tujuh rumah hancur dan tujuh rumah terancam di Kampung Datarmuncang Desa Jagabaya Kecamatan Mekarmukti.

Kemudian juga dua rumah hancur, serta satu rumah rusak di Kampung Cikarawang Desa Sukarame Kecamatan Caringin, dan 12 rumah terancam di Kampung Singatuwuh Desa Jatisari Kecamatan Cisompet.

Rekomendasi ini, digulirkan Badan Geologi atas hasil pemeriksaan lapangan menyusul bencana gerakan tanah/longsor pada tujuh kecamatan berlangsung nyaris bersamaan di wilayah selatan Garut.

Masing-masing di Kecamatan Mekarmukti, Caringin, Cisompet, Bungbulang, Pakenjeng, Cikelet, dan Kecamatan Singajaya.

Berdasar Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada November dan Desember 2014 di Jawa Barat (PVMBG pada Badan Geologi), menunjukkan dari tujuh kecamatan tersebut, enam di antaranya berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah-tinggi terdiri Kecamatan Mekarmukti, Cisompet, Bungbulang, Pakenjeng, Cikelet, dan Singajaya.

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Sedangkan satu kecamatan lainnya, Caringin berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah.

Pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, gerakan tanah bisa terjadi jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atawa jika lereng mengalami gangguan.

Sedangkan pada zona kerentanan gerakan tanah tinggi, dapat terjadi gerakan tanah apabila curah hujan di atas normal, dan gerakan tanah lama bisa aktif kembali.

“Yang pasti, rumahnya hancur, itu mesti dipindahkan. Namun meski tanah tersedia misalnya di tanah carik, atau lainnya, tetapi tetap harus dikonsultasikan dengan Badan Geologi menyangkut kelayakannya. Aman atau tidak. Jangan sampai dipindahkan ke tempat baru, tetapi tempat tersebut justru masih tak aman,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD kabupaten setempat Dik Dik Hendrajaya, Rabu (17/12-2014).

Khusus penghuni 12 rumah di Kampung Singatuwuh Desa Jatisari Cisompet, kendati berkondisi hanya terancam, namun direkomendasikan direlokasi ke tempat baru.

Sebab pemukimannya berada di lereng bagian bawah badan jalan ini, berada pada lokasi berpotensi terjadi gerakan tanah susulan, dan banjir bandang, katanya.

Masyarakat juga diimbau menghindari pembuatan kolam, pesawahan, perkebunan atawa pertanian lain banyak memerlukan air di bagian atas lereng lantaran dapat menyebabkan tanah menjadi tak stabil.

Menstabilkan tanah retak sebaiknya ditanami tanaman berakar kuat, agar gerakan tanah tak terus berkembang.

Masyarakat diharapkan pula, erus memantau intensitas perkembangan retakan terjadi pada pemukiman, kebun, sawah, serta jalan, dan jika retakan terus berkembang maka diharapkan mereka segera mengungsi ke tempat lebih aman.

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Badan Geologi juga merekomendasikan supaya membuat rambu peringatan rawan longsor. Termasuk di jalur lalu lintas rawan longsor agar pengguna jalan waspada jika melintasi terutama di musim hujan sekarang.

“Rambu peringatan daerah rawan longsor ini, kita memasangnya di sejumlah titik beberapa waktu lalu, hingga sekarang masih aman terpasang. Kini kita bakal menambah lagi sekitar 40 papan peringatan rawan longsor tersebar pada beberapa titik. Bukan hanya itu, juga segera memasang sekitar 120 rambu petunjuk jalur evakuasi bencana tsunami di pesisir selatan Garut, dan sekitar 120 rambu kontingensi bencana letusan Gunungapi Guntur tersebar di beberapa titik,” beber Dik Dik.

Kerugian material akibat bencana longsor pada tujuh wilayah kecamatan di Selatan Garut sendiri ditaksir mencapai Rp5,425 miliar, berkerusakan fisik sedikitnya 134 rumah rusak berat, 108 rumah lain rusak sedang, dan 117 rumah rusak ringan.

Sedikitnya pula 455 rumah penduduk berkondisi terancam. dua bangunan masjid terancam, dua bangunan SD dan madrasah rusak, serta tiga jembatan rusak berat.

Diperparah beberapa lintasan ruas jalan, serta areal pertanian mengalami kerusakan sebab tertimbun material longsor.

Dikemukakan, seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Garut tergolong berpotensi terjadi gerakan tanah atawa longsor bertingkat kerentanan gerakan tanah Menengah hingga Tinggi.

Dari seluruh 42 kecamatan di Kabupaten Garut, hanya enam kecamatan berada di zona kerentanan gerakan tanah Menengah.

Terdiri Kecamatan Balubur Limbangan, Selaawi, Caringin, Cibiuk, Cibalong, dan Kecamatan Pameungpeuk.

Selebihnya, 36 kecamatan berada pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah-Tinggi.

Selain rentan terjadi gerakan tanah, dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut ini juga terdapat 15 kecamatan di antaranya berpotensi banjir bandang. Termasuk di kawasan perkotaan, bebernya pula.

********

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here