100 Hari

0
74 views

Aris Setiawan, Esais

Garut News ( Sabtu, 31/01 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Apa program utama dalam 100 hari kerja? Begitulah pertanyaan yang banyak diajukan kepada presiden ataupun pejabat lain dalam pemerintahan yang baru dilantik.

Seratus hari menjadi tolok ukur untuk melihat pencapaian kerja perdana yang dilakukan.

Angka “100” menjadi hal yang paling ditunggu. Tidak ada referensi yang menyebutkan kenapa angka itu tampak begitu prestisius dalam dunia politik kita.

Namun, pada hari ke-100, kita banyak menemukan berbagai komentar dari para pengamat, politikus, dan masyarakat.

Media online, elektronik, maupun cetak mengulas segala capaian, baik keberhasilan maupun kegagalan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Di Jawa, hari keseratus menjadi angka yang keramat. Apabila ada orang yang meninggal, akan dilakukan selamatan atau pengajian berdasarkan ukuran hari, semisal 7, 40, dan 100 hari.

Pada hari keseratus, pengajian dilakukan sambil memberi makan berupa nasi. Sedangkan untuk hari-hari sebelumnya hanya minuman dan makanan kecil.

Hal ini menunjukkan bahwa hari keseratus memiliki makna dan arti tersendiri.

Begitu pun di banyak kebudayaan lain (lihat Toraja, Bali, dan Dayak), angka “100” memiliki makna yang dalam.

Kita pun banyak melihat program-program yang didasarkan pada hitungan 100 hari. Semisal, 100 hari keliling dunia, 100 hari berpuasa, 100 hari mencari cinta, 100 hari mengejar mimpi, kaya-sukses dalam 100 hari, dan lain sebagainya.

Angka seratus menjadi begitu familiar. Kehidupan manusia masa kini dipenuhi rentetan hitung-hitungan hari. Angka-angka pada kalender sesak oleh lingkaran dan coretan.

Kita kemudian diajak untuk menoleh ke belakang saat angka di hari itu genap 100. Menjadi ruang evaluasi sekaligus kontemplasi atas segala hal yang telah dikerjakan.

Dengan demikian, prediksi dan ramalan ke depan dapat dimulai kembali dengan hitungan hari yang lebih banyak dari sekadar seratus, begitu seterusnya.

Angka “100” menjadi titik kulminasi untuk meluapkan segala hal, baik protes maupun pujian.

Kita telah disuguhi menu-menu wacana, kritik, penyesalan, ramalan, pujian, dan hujatan dalam 100 hari pemerintahan Jokowi-JK.

Hal yang dapat kita tebak, 100 hari pemerintahannya tidak berjalan semulus seperti yang dibayangkan. Banyak kasus dan persoalan yang belum terselesaikan dengan baik, seperti kisruh antara KPK dan Polri.

Bagi pihak lawan, momen 100 hari adalah waktu terbaik untuk melancarkan segala serangan. Sedangkan bagi pihak yang bersangkutan (pemerintah), mereka bersiap merancang jawaban dan membangun apologi semenarik mungkin.

Hitung-hitungan hari kemudian tampak begitu politis. Berisi ajang pamer dan umpatan. Menjadi momen yang ditunggu sekaligus dihindari.

Bagaimanapun juga, ukuran 100 hari kerja, di satu sisi, tetap menjadi penting sebagai batasan waktu agar kerja tetap memiliki target, capaian, dan tujuan yang jelas.

Kerja harus dibatasi oleh deadline. Namun, di sisi lain, patokan hari menjadi ajang yang sesak oleh kepentingan politis, momentum untuk saling menghujat tanpa solusi.

Seratus hari pemerintahan Jokowi, 100 hari pula kita telah disuguhi berbagai menu kebijakan yang tentunya membawa pro-kontra.

Hari Tidak Akan Pernah Berubah, Yang Berubah Hanya Manusia Beserta Perilakunya. Seratus Hari Kemudian Hanya Menjadi Kenangan Berwujud Bulatan Dan Coretan Dalam Angka Di Kalender Kita.

********

Kolom/artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here